Peninggalan Bangsa Portugis Di Jakarta

Bangsa Portugis adalah bangsa Eropa yang pertama kali menjejakkan kaki di pulau Jawa pada abad ke-16 dalam rangka pencarian pulau rempah-rempah yang legendaris. Walau mereka tidak mendominasi pulau Jawa, peninggalan mereka masih nyata terlihat yaitu 2 gereja portugis dan musik keroncong. Keroncong adalah musik  Indonesia yang dipengaruhi oleh musik asli Portugis yang bernama Fado, diperkenalkan oleh para pelaut dan budak dari kapal-kapal dagang di abad 16.

Perjalanan musik ini dimulai dari Goa di India ke Malaka sampai Tugu. Keroncong mendampingi Moresco, tarian yang mengandung pengaruh Spanyol yaitu seperti Polka namun dibawakan dalam gerakan yang lebih perlahan. Pada proses akulturasi keroncong yang aslinya dimainkan dengan akat musik gesek, dalam perjalanannya ditambahkan dengan sentuhan flute dan gamelan.

Di tahun 1960, Keroncong sekali lagi dipopulerkan oleh Jenderal Polisi Hugeng bersama band nya The Hawaiian Seniors yang terkenal pada masa itu, dengan menambah elemen tertentu dari the Moluccas dan Hawaii. Bangsa Inggris yang sempat berkuasa dalam masa yang cukup singkat yaitu selama masa Gubernur Jendral Sir Stamford Raffles (1811-1815) juga meninggalkan gereja Anglican yang sampai sekarang masih berdiri di area Menteng. Berikut ini adalah beberapa peninggalan Bangsa Portugis yang ada di Jakarta.

Gereja Sion

gereja sion

Gereja Sion termasuk gereja tertua di Jakarta yang dibangun pada abad ke 16. Sebelumnya dikenal sebagai Gereja Portugis, dengan struktur bagunan yang kokoh dan masih menggunakan altar dan pews yang asli.

Gereja Tugu Portugis

Gereja yang dibangun pada tahun 1725 ini tampaknya diperuntukkan para budak yang bekerja untuk penduduk Portugis di masa itu. Bangunannya terbilang sederhana namun penduduk di lingkungan sekitarnya masih tetap merayakan natal dengan cara yang khusus ditemani oleh alunan musik keroncong dan berbagai tari-tarian.

Gereja Anglican

Satu-satunya Gereja Anglican di Jakarta ini dikenal sebagai All Saints Church, terletak di area Menteng dan dibangun dalam gaya Tropical Gregorian. Di pelataran halaman gereja dikuburkan para tentara yang gugur pada perang dunia I dan perang dunia II melawan tentara Jepang.