Asal Muasal Etnis Betawi

Istilah Betawi merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut nama suku asli penghuni Jakarta yang berasal dari kata batavia. Menurut perkiraan studi sejarah demografi penduduk Jakarta (The Ethnic Profile Of Jakarta, Indonesia; April 1967), suku Betawi merupakan suku baru dalam kehidupan masyarakat Jakarta yang berasal dari campuran berbagai golongan etnis (Sunda, Arab, India, dan Tionghoa).

Bahkan, informasi yang didapat dalam data sensus penduduk Batavia tahun 1615 dan 1815 oleh pemerintah Kolonial Belanda, tidak tercatat mengenai adanya nama etnis Betawi. Baru pada data sensus tahun 1930 ditemukan catatan sebanyak 778.953 jiwa masyarakat Betawi berada dan tinggal di Jakarta.

Hal ini dikarenakan pengakuan terhadap hadirnya etnis Betawi sebagai salah satu kelompok dan anggota terbesar dalam masyarakat Batavia baru muncul tahun 1923 saat M. Husni Thamrin mendirikan “Perkumpoelan Kaoem Betawi” (pada perjalanannya “Perkoempolan Kaoem Betawi” menjadi salah satu anggota dari Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia atau lebih dikenal dengan nama PPPKI yang merupakan penggagas terselanggaranya Kongres Pemuda 28 Oktober 1928).

betawie

Sebagai etnis yang merupakan etnis campuran dari berbagai suku bangsa, bahasa keseharian etnis Betawi juga merupakan campuran dari bahasa-bahasa lain, seperti Sunda, Arab, danBelanda. Namun demikian, bahasa utama yang dipergunakan adalah bahasa Melayu-Indonesia.

Hal ini menarik, karena dengan banyaknya percampuran bahasa yang dimiliki etnis Betawi secara tidak langsung menimbulkan sebuah dialek tersendiri yang saat ini dikenal dengan nama “Dialek Betawi”.

Hampir mirip dengan proses pembentukan dialek Betawi, dalam hal kebudayaan, etnis Betawi memiliki banyak ragam kebudayaan yang berasal dari perkawinan unsur-unsur budaya terdahulu. Dalam bidang kesenian misalnya budaya musik yang dikenal dengan nama Gambang Kromong memiliki unsur musik Tiongkok yang sangat kuat. Begitu juga dengan Rebana (banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Arab), Tandjidor (Belanda), dan seni musik Keroncong (Portugis).

Masyarakat Betawi dikenal sebagai masyarakat yang sangat menghargai pluralisme, dan memiliki jiwa sosial serta kesetiakawanan yang tinggi bahkan terkadang cenderung berlebihan. Hal ini sebenarnya positif. Namun terkadang disalahgunakan pihak-pihak tertentu baik dari etnis Betawi sendiri maupun pihak lain (terjadi hingga saat ini). Nama Betawi sering kali digunakan sebagai tameng  untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang kurang bahkan tidak bertanggung jawab.

Selain itu, stigma tentang sedikitnya masyarakat dari etnis ini yang dapat berhasil dengan baik dalam bidang ekonomi, bisnis, maupun pendidikan merupakan hal merugikan yang mau tidak mau harus diakui. Kemampuan bersaing yang kurang menyebabkan  etnis ini semakin terpinggirkan dan terlempar dari Jakarta.

Diperlukan banyak upaya dan kemauan khususnya dari warga Betawi sendiri agar tetap ada dan eksis di tanah kelahirannya. Karena jika tidak, keberadaan kaum Betawi ini akan semakin menghilang. Dan, suatu saat mungkin hanya akan menjadi bagian dari sejarah dan cerita tentang hilangnya salah satu etnis terbesar kota Jakarta.