Wisata Kuliner Di Jalan Citadelweg

Citadelweg, atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Jl.Veteran I, terletak di kotamadya Jakarta Pusat, bersebelahan dengan Masjid Istiqlal. Dulunya jalan ini digunakan sebagai jalur untuk menuju lokasi benteng (Citadel) Frederik Hendrik yang berada ditengah taman wilhemia (Kawasan bekas benteng dan Taman Wilhelmina saat ini digunakan sebagai tempat berdirinya sebuah masjid terbesar di Asia Tenggara bernama Masjid Istiqlal).

Citadelweg dikenal memiliki beberapa tempat wisata kuliner bertema kolonial dan beberapa bangunan bergaya Indies yang dibuat sejak tahun 1923. Tidak seperti Jl. Veteran (Risjwijk) atau Jl. Juanda (Noordwijk) yang memiliki banyak tempat sejarah di Jakarta, Citadelweg tidak mempunyai banyak kisah sejarah yang dapat diceritakan kecuali beberapa tempat hiburan tua yang masih bertahan hingga sekarang. Salah satunya Hotel Sriwijaya .

Dengan berlalunya masa, hotel ini beberapa kali mengalami pergantian kepemilikan yang berakibat pada perubahan nama, diantaranya, menjadi Du Lion d’Or Hotel pada tahun 1899, Park Hotel pada tahun 1941 dan terakhir Hotel Sriwijaya. Sayang, jika dibandingkan dengan beberapa koleksi foto tua peninggalan hotel tersebut, bentuk Hotel Sriwijaya saat ini sudah banyak berubah meninggalkan bentuk aslinya.

Selain Hotel Sriwijaya, Citadelweg memiliki beberapa tempat wisata lain yang menarik untuk dikunjungi. Yang pertama adalah tempat wisata kuliner “Ice Cream Italia Ragusa” dan sebuah bar bernama “Le Chat Noir” (sekarang menjadi Newseum Cafe).

Ice Cream Italia Ragusa

Ragusa Es Italia - Jl. Veteran

Ragusa Es Italia – Jl. Veteran

Berawal dari keinginan dua bersaudara Italia Luigi dan Vicenzo Ragusa untuk menciptakan usaha es krim di Batavia, Es Krim Ragusa mulai dirintis tahun 1932 di wilayah Gambir. Tahun 1947, es krim ragusa memutuskan membuka kedai pertamanya di daerah Citadelweg yang juga dijadian sebagai pabrik utama. Usaha ini terus diperlebar dengan pembukaan outlet ke seluruh Jakarta. Sayang diantara outlet Ragusa banyak yang tidak dapat bertahan. Namun demikian bukan berarti usaha es krim yang telah berusia 77 tahun ini bangkrut. Ia masih dapat ditemukan dan dinikmati di kedai utamanya yang terletak di Jl. Veteran I No.10, Jakarta Pusat.

Le Chat Noir/ Black Cat Club

Sulit menemukan informasi mengenai kapan club ini berdiri. Namun berdasarkan cerita yang ada, cafe & bar yang satu ini merupakan tempat sosialisasi berbagai kalangan menengah Batavia. Tokoh-tokoh fenomenal sekelas agen rahasia Perancis Margarethe Gertruide Zelle (Mata hari), serta otak pembantaian massal di Sulawesi Selatan, Raymond Pierre Paul Westerling di kisahkan sering berkunjung ke lokasi ini.

Dalam perkembangannya Le Chat Noir berubah menjadi club di Jakarta yang menyediakan berbagai jenis cerutu dan tembakau berkelas dengan nama Cuba Libre. Beberapa tahu lalu, sentuhan lain diberikan kepada bar bernuansa kolonial ini. Tempat yang dulu terkesan penuh misteri dan ekslusif itu dijadikan mentereng. Berbagai karya sejarah jurnalistik Indonesia dihadirkan sebagai pelengkap koleksi yang disesuaikan dengan nama baru yang diberikan, yakni Newsem Cafe.