JAKARTA KOTA BUDAYA DAN PARIWISATA (1968-1977)

Inilah Jakarta, sebagai kota metropolitan & pintu grebang Indonesia, yang kaya akan obyek-obyek pariwisata. Tetapi jika anda datang dari segala penjuru pulau Jawa, tentunya anda akan mengenal stasiun GAMBIR. Sedangkan jika anda datang ke ibukota melewati lautan, anda akan mengenal Pelabuhan Samudra Tanjung Priok sebagai pelabuhan utama Indonesia.

Segala macam taksi telah telsedia bagi anda. Impala, Holden, atau Mercedes siap untuk membawa anda ketempat peristirahatan. Taksi Valiant adalah taksi terbaru yang didatangkan pemerintah DKI Jakarta Raya untuk keperluan anda sekalian. Demikian juga halnya jika anda turun di Stasiun Gambir ataupun Pelabuhan Samudra anda akan dijemput dengan berbagai macam kendaraan yang selalu bersedia membawa anda kesegenap pelosok ibukota Jakarta. Kurang lebih seperti itulah gambaran promosi Jakarta sebagai kota wisata tahun 1969.

Setelah kemunduran akibat peristiwa politik sepanjang tahun 1965-1966 Jakarta kembali berbenah. Dibawah kepemimpinan Ali Sadikin yang dikenal dengan ketegasannya, berbagai konsep pembangunan dan rehabilitasi Jakarta dilaksanakan. Tidak hanya pembangunan lokasi-lokasi bisnis dan perdagangan, kawasan wisata & budaya ikut mendapat perhatian yang seimbang. Munculnya nama lokasi hiburan baru seperti, Taman Margasatwa Ragunan (1966), Kawasan Wisata Pantai Bina Ria (1966) dan Taman Ria Monas (sudah dialih fungsikan) merupakan sebagian dari hasil pembangunan tersebut.

Monumen Nasional

Monumen Nasional

Pemugaran kawasan kota-kota tua Jakarta serta pemanfaatan bangunan-bangunan bersejarah peninggalan masa lalu sebagai museum seperti yang terjadi pada bangunan bekas gedung Stadhuis dilakukan guna memperbesar daya tarik Jakarta sebagai kota yang memiliki banyak obyek wisata sejarah. Tidak tanggung-tanggung tahun 1977 pemerintah kota Jakarta bahkan merelokasi sebuah lahan pemakaman berumur lebih dari 100 tahun dan merubahnya menjadi sebuah museum alam yang memamerkan berbagai bentuk batu nisan sebagai koleksinya.

Belum cukup dengan apa yang telah dilakukan, Kawasan Kepulauan Seribu yang termasuk dalam otonomi kota Jakarta dan menyimpan keindahan alam serta sejarah panjang perjalanan Jakarta juga dimanfaatkan sebagai salah satu lokasi tujuan wisata. Nama-nama seperti Pulau Onrust, Pulau Bidadari, serta pulau Edam dibenahi sedemikian rupa agar dapat menarik kunjungan wisatawan.

Sementara dalam mempromosikan seni & budaya, pemerintah kota membangun beberapa pusat kesenian seperti, Taman Ismail Marzuki (1968), Taman Mini Indonesia Indah (1975) serta Pusat Perfilman Usmar Ismail (1975). Selain itu pemilihan duta wisata “Abang-None Jakarta” serta ajang promosi dan pesta rakyat tahunan “Jakarta Fair” (sekarang Pekan Raya Jakarta) juga mulai di gelar demi lebih memperkenalkan Jakarta di tahun 1968.